Dalam konteks hukum keluarga di berbagai negara, termasuk Indonesia, nasab anak di luar perkawinan telah menjadi masalah hukum dan sosial yang kompleks. Artikel ini berfokus pada keputusan Pengadilan Agama Talu Nomor 173/Pdt.P/2021/PA.Talu untuk memeriksa masalah nasab anak di luar perkawinan dalam konteks penetapan oleh Pengadilan Agama. Artikel ini menggunakan dua perspektif: landasan hukum Islam dan peraturan hukum nasional yang berkaitan dengan penetapan nasab anak di luar perkawinan. Kita juga meninjau keputusan Pengadilan Agama Talu, yang merupakan masalah utama. Analisis ini mencakup argumen hukum, pertimbangan hukum, dan rasio decidendi yang digunakan Pengadilan Agama saat memutuskan perkara tersebut. Sangat penting untuk memahami cara Pengadilan Agama membuat asas hukum, menginterpretasikan sumber hukum, dan memahami konsekuensi sosial dari keputusan mereka. Selain itu, artikel ini membahas dampak keputusan Pengadilan Agama Talu dalam konteks peradilan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Pada akhirnya, artikel ini merangkum implikasi keputusan Pengadilan Agama Talu mengenai penetapan nasab anak di luar perkawinan dan memberikan perspektif luas tentang masalah ini. Artikel ini dapat membantu praktisi hukum, akademisi, dan masyarakat memahami masalah nasab.
Category: AL-IMAM
-

Transformation of Qur’an and Hadith Learning Through Merdeka Curriculum in Indonesia
This research uses qualitative methods to investigate the transformation of Qur’anic and Hadith learning in Indonesia through the implementation of Merdeka Curriculum. The focus of the research includes the identification of barriers in traditional religious education, an emphasis on the need for a more dynamic and inclusive teaching approach to these key texts, as well as an explanation of solutions involving the adoption of Merdeka Curriculum. The curriculum incorporates innovative teaching methods, technology and community participation. The results show that traditional religious education in Indonesia is faced with a number of challenges, including monotonous teaching methods, lack of student interaction, and less relevance to contemporary life. Therefore, a more dynamic and inclusive teaching approach is needed to arouse students’ interest and understanding of the Qur’an and Hadith. Merdeka Curriculum is considered a promising solution by bringing together innovative teaching methods, technology and community engagement. Its implementation showed significant improvements in student engagement, understanding, and application of the teachings of the Qur’an and Hadith. In conclusion, curriculum reform through Merdeka Curriculum has an important role to play in strengthening the understanding and appreciation of Islamic principles among students in Indonesia. This more dynamic and inclusive approach can help the younger generation to understand and appreciate the principles of Islam.
-

Moderasi Beragama: Menangkal Islamophobia Melalui Revitalisasi Media Sosial
Islamophobia kian marak belakangan ini terjadi, tidak hanya di negara Barat tapi juga di negara-negara Muslim. Media sosial ikut berperan dalam penyebaran konten yang memicu timbulnya Islamophobia. Moderasi beragama perlu mencari cara untuk memoderasi isu-isu yang muncul di masyarakat agar tidak terjadi ekstremisme, khususnya Islamofobia. Tulisan ini bertujuan mengkaji strategi untuk merevitalisasi media sosial sebagai upaya menangkal Islamophobia. Dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif analitis, dikaji akar permasalahan munculnya Islamophobia dan potensi media sosial untuk menangkalnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesalahpahaman terhadap Islam dan budaya Muslim menjadi pemicu utama Islamophobia. Media sosial yang dimanfaatkan dengan bijak berpotensi menjadi sarana edukasi publik tentang Islam sehingga memulihkan citranya sebagai agama damai dan selamat. Strategi yang dapat diterapkan antara lain bersikap moderat, kritis dan tanggap terhadap konten Islamophobia serta mengedukasi penggunaan media sosial secara bijak. Partisipasi aktif segenap elemen masyarakat diperlukan untuk merevitalisasi peran media sosial dalam menangkal dampak negatif Islamophobia dan menciptakan pemahaman yang lebih baik di tengah-tengah masyarakat.
-

Analisis Kata Serapan Bahasa Arab Dalam Tindak Tutur Masyarakat Melayu Bengkalis
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kata serapan Bahasa Arab dalam tindak tutur masyarakat Melayu di Bengkalis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata serapan Bahasa Arab memiliki peran yang signifikan dalam tindak tutur masyarakat Melayu Bengkalis. Penggunaan kata-kata serapan ini mencerminkan pengaruh budaya Arab dalam kehidupan sehari-hari dan komunikasi masyarakat setempat. Selain itu, kata serapan Bahasa Arab juga memperkaya kosakata dan ekspresi linguistik dalam bahasa sehari-hari masyarakat Melayu Bengkalis. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika penggunaan kata serapan Bahasa Arab dalam bahasa dan budaya masyarakat Melayu Bengkalis. Implikasi dari temuan ini dapat menjadi sumbangan penting untuk studi linguistik, antropologi bahasa, dan studi budaya, serta memberikan landasan bagi pelestarian dan pengembangan warisan budaya dan bahasa di wilayah ini.
-

Fikih Perempuan Tentang Aurat dan Busana Muslimah
Dalam Islam, pemahaman tentang aurat dan etika berbusana muslimah sangat penting, mencerminkan kepatuhan terhadap ajaran agama, identitas, dan martabat seorang muslimah. Aurat, yang harus ditutupi dari pandangan non-mahram sesuai al-Quran dan as-Sunnah, dan berbusana muslimah, yang menekankan pemenuhan syarat aurat, bukan hanya tuntutan agama tetapi juga cara memelihara kesucian dan menghindari fitnah. Kesadaran ini membantu membentuk karakter dan personalitas muslimah yang bermartabat, serta memperkuat jati diri mereka dalam masyarakat, memungkinkan mereka tampil anggun tanpa mengorbankan nilai agama. Pemahaman ini juga mendukung terciptanya lingkungan sosial yang harmonis dan menghormati keberagaman. Karena itu, pemahaman pentingnya aurat dan berbusana muslimah tidak hanya pada ibadah dan kepatuhan agama saja, tetapi juga dalam pembentukan identitas sosial dan kontribusi terhadap masyarakat yang saling menghargai. Ini menunjukkan bagaimana Islam memoderasi pemahaman keagamaan dengan penghormatan terhadap diri sendiri dan pembangunan sosial masyarakat yang positif.

